Ada Apa Dengan Bahasa Jawa?

Oleh : Latifiyah Ainur Rizki, S. Pd.

Bahasa Jawa, mata pelajaran yang sudah tidak asing lagi kita jumpai. Dari tingkat sekolah dasar sampai menengah, mata pelajaran bahasa Jawa tidak pernah absen. Namun walaupun sudah diajarkan tiap jenjang pendidikan, bahasa Jawa masih dianggap salah satu mata pelajaran yang sulit. Anggapan ini tidak hanya berlaku untuk peserta didik yang berasal dari luar jawa atau pendatang, bahkan peserta didik yang asli keturunan Jawa sendiri juga merasa kesulitan. Jika dilihat dari penggunaannya, bahasa Jawa tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dari segi bahasa, budaya, maupun keseniannya sering dijumpai. Tapi anehnya mata pelajaran bahasa Jawa masih dianggap sulit. Hal ini bisa dilihat dari hasil evaluasi pembelajaran yang masih tergolong rendah pada pembahasan-pembahasan tertentu.

Mata pelajaran Bahasa jawa juga sering dianggap tidak penting. Padahal, tak berbeda dengan mata pelajaran bahasa yang lain seperti bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Minat belajar bahasa Asing juga bisa dibilang lebih besar dari pada bahasa Jawa. Memang dibanding bahasa lain, bahasa Jawa memiliki bahasa yang beragam. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan suasana dan lawan tuturnya. Ragam bahasa yang dimaksud adalah ragam ngoko dan krama. Ragam bahasa ngoko sering digunakan sebagai bahasa sehari-hari dengan lawan tutur sebaya. Mungkin jika penggunaannya hanya ngoko, tidak begitu sulit, namun jika sudah dihadapkan dengan ragam bahasa krama menjadi lain cerita. Bahasa krama biasa digunakan untuk bertutur kepada orang yang lebih tua atau dituakan. Suasana yang formal juga tak lepas dari penggunaan ragam bahasa krama.  Anggapan sulit ini yang membuat minat untuk belajar menjadi berkurang.

Ragam bahasa ngoko maupun krama dikenalkan kepada peserta didik untuk mengajarkan pentingnya tata krama. Penggunaan ragam bahasa yang tepat saat berinteraksi dengan orang lain akan memberikan kesan santun dan hormat. Penggunaan bahasa ngoko untuk berinteraksi dengan kawan sebaya juga dapat memberikan kesan akrab. Jika peserta didik dapat menggunakan ragam bahasa dengan tepat, atau istilahnya empan papan, pada akhirnya peserta didik dapat hidup bermasyarakat dengan baik pula.

Dilihat dari penggunaannya, sebenarnya ragam bahasa Jawa tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Mau tidak mau peserta didik yang sekarang sedang belajar di sekolah nantinya juga akan terjun di tengah masyarakat. Maka dari itu, sebagai pendidik perlu mencari solusi yang tepat agar mata pelajaran bahasa Jawa diminati siswa. Guru harus memiliki banyak metode dan model pembelajaran yang menarik minat peserta didik untuk belajar bahasa Jawa. Penggunaan berbagai media kekinian yang dekat dengan peserta didik tentu akan banyak membantu. Pembiasaan penggunaan dan pengenalan kosa kata baru juga dapat meningkatkan kemampuan siswa.

Evaluasi hasil belajar peserta didik juga dapat membantu guru untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Pemetaan dilakukan bukan hanya sebatas untuk mengetahui nilai peserta didik yang tuntas maupun tidak. Namun ini juga bisa guru gunakan untuk mengetahui apa yang kurang dikuasai oleh peserta didik. Pemetaan ini bisa sebagai acuan guru dalam pembelajaran berikutnya. Jadi guru dapat lebih konsentrasi pada hal-hal yang dirasa sulit oleh peserta didik. Guru juga dapat mencari alternatif lain dalam melakukan penyampaian materi yang dianggap sulit agar terlihat lebih sederhana dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Mari ciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan. Jika peserta didik sudah menyukai suatu pelajaran khususnya bahasa Jawa, apapun yang disampaikan oleh guru akan bisa lebih mudah diterima. Penggunaan media audio visual juga dapat menambah daya tarik dari pada hanya dijelaskan guru. Kesan-kesan monoton dan membosankan bisa menjadi cikal bakal peserta didik malas mengikuti pelajaran tersebut. Dengan hilangnya kesan sulit dalam proses belajar bahasa Jawa, maka penerimaan materi akan lebih mudah. Proses pembelajaran juga dapat berhasil dengan pembiasaan. Kunci mahir berbahasa adalah pembiasaan penggunaannya. Guru dapat membiasakan telinga siswa mendengar ragam bahasa Jawa, dari pembiasaan mendengar, peserta didik juga bisa terbiasa menggunakan. Jangan sampai orang Jawa tidak menguasai bahasanya sendiri. Sedangkan banyak orang luar yang tertarik dengan bahasa Jawa. Jangan jadikan generasi penerus kita sebagai generasi wong jawa sing ilang jawane.

Leave a Comment