Seberkas Harapan untuk Para Guru Honorer di Penghujung Tahun 2021

Oleh : Ryndrarto Widyodo Tresnanegara, S.Pd.

Tahun 2021 sebentar lagi akan berakhir. Saatnya bagi 2022 untuk hadir menemani
kehidupan kita. Kaledoskop di tahun 2021 terbersit di ingatan penulis banyak sekali peristiwa yang terjadi di tahun Kerbau Logam ini. Baik peristiwa-peristiwa berskala dunia atau nasional telah kita alami bersama. Entah itu peristiwa yang berakibat buruk bagi kita atau mengandung berkah di dalamnya. Mereka melewati kita silih berganti. Seperti peristiwa pandemi COVID 19 yang belum usai dari tahun 2020 hingga peristiwa yang berhubungan dengan pekerjaan kita.

Sebagai pendidik, penulis harus bertanggung jawab sepenuhnya menyelesaikan tugastugas yang diembannya. Penulis mengatakan bahwa mendidik dan memberi ilmu kepada para siswa bukan suatu pekerjaan tetapi tugas, karena bila kita mengatakan mendidik itu pekerjaan berarti kita mengharapkaan imbalan dengannya atau kita mengharapkan uang untuk itu. Bukan pekerjaan tetapi tugas, sebab tugas adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan guna mencapai tujuan khusus (Moekijat, 1998). Tujuan khusus pendidik adalah mencerdaskan generasi penerus bangsa. Untuk itu diperlukan proses yaitu pembelajaran. Pembelajaran sebenarnya bisa di berbagai tempat dan yang memberi pembelajaran tidak harus seorang yang dinamakan guru. Guru dalam bahasa Sansekerta artinya “berat” dan memang tanggung jawab yang diemban guru sangat berat karena berhubungan dengan nyawa seorang anak yang akan dibentuk menjadi seseorang yang yakin akan jati dirinya di masa depan. Dan menurut penulis guru bukanlah profesi karena semua profesi dapat menjadi guru, seperti dokter, pilot, militer, ahli komputer, ahli bahasa dan sebagainya. Seperti kata Ki Hajar Dewantoro “Semua orang Bisa Jadi Guru, Semua Rumah Bisa Jadi Sekolah.”

Maka bila kita mendengar bahwa guru adalah “ Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” itu benar.
Guru mengajarkan ilmu kepada siswa-siswanya dengan ikhlas. Tanpa imbalan apapun. Baik itu imbalan kado dari murid, tunjangan sertifikasi dari pemerintah atau kenaikan pangkat bagi guru PNS. Karena guru bukan profesi atau pekerjaan. Namun tugas yang wajib dilaksanakan dengan keikhlasan hati. Sebab dengan keikhlasan itu akan mendatangkan berkah. Berkah inlah yang akan mendatangkan kesejahteraan bagi kita. Tetapi ingat! Kita bukan “Mencari Berkah”. Kita berusaha maka berkah akan datang setelahnya.

Kita tengok teman-teman kita yang berpredikat guru honorer. Lihat mereka melaksanakan tugasnya dengan keikhlasan berapapun gaji yang diterimanya. Mereka mengajarkan ilmu kepada siswa-siswanya dengan menggunakan fasilitas apa adanya dilingkungannya bahkan mereka membuat media pembelajaran sendiri dengan bahan seadanya di sekitar mereka tanpa harus menggunakan teknologi canggih sekalipun. Namun hasilnya kepada para siswanya sangat membanggakan. Para guru honorer ini menjadikan tugas mereka bukan sebagai pekerjaan. Sebab mereka sudah memiliki pekerjaan sendiri seperti ada yang berwirausaha, ada yang beternak, ada yang bertani dan sebagainya. Inilah yang disebut guru yang sebenarnya. Bukan yang harus menenteng laptop, berdasi dan mengharapkan tunjangan sertifikasi untuk membeli mobil.

Di masa pandemi para pendidik honorer ini mendapat ujian yang sangat besar baik yang honorer sekolah negeri maupun swasta. Mereka disamping harus memberi nafkah keluarga juga harus tetap mendidik para siswanya meskipun tidak bertemu secara langsung. Padahal dibutuhkan media atau sarana untuk mengajar secara online, sedangkan fasilitas para guru honorer ini terbatas, seperti hanya menggunakan laptop jadul atau smartphone bekas sebagai media untuk bertatap muka dengan para siswanya secara virtual. Semakin berat halangan yang dihadapi para guru honorer ini terutama yang telah mengabdi belasan tahun di tempatnya bertugas.

Namun mulai pertengahan tahun 2021 kemaren mulai ada secercah harapan bagi para
guru honorer ini dengan adanya pernyataan dari Presiden lewat Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan tentang Pengangkatan Guru Honorer sebagai ASN atau Aparatur Sipil Negara
terutama bagi yang telah mengabdi lama dengan khusus diadakannya PPPK atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Meskipun wujudnya hanya sebagai “pegawai kontrak” istilah umumnya, namun mereka sangat bersyukur karena nantinya mereka bisa fokus untuk mendidik para siswa tanpa harus bekerja sampingan sebagai profesi lain. Sebenarnya tentang PPPK ini sudah sejak tahun 2019 sudah ditetapkannya namun karena adanya pandemi sehingga mundur sampai tahun 2021 dari pemerintah untuk menyelesaikannya. Rencananya menurut pemerintah akan terus berlanjut sampai tahun 2022 mendatang untuk menyelesaikan permasalahan guru-guru honorer ini.

Semoga doa dan cita-cita dari para guru honorer dapat terwujud agar nantinya dapat dicurahkan segala pemikiran dan inspirasinya ke siswa-siswa dan dapat mencerdaskan para generasi penerus bangsa tersebut. Harapan kita semua bahwa ada seberkas harapan bagi para guru honorer di penghujung tahun 2021 ini demi menyongsong tahun 2022 esok yang semakin cerah dan sejahtera, Selamat bagi guru honorer yang telah lulus PPPK dan tetap semangat para guru honorer yang masih berjuang, karena kita tahu bahwa “Hari Kemaren adalah Kenangan, Hari ini adalah Kenyataan, dan Hari Esok adalah Harapan”.

Leave a Comment