WEH-WEHAN UPAYA PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL BUDAYA ISLAM JAWA

Oleh : Latifiyah Ainur Rizki, S. Pd.

Indonesia kaya dengan kebudayaannya. Mulai Sabang sampai Merauke memiliki kearifan lokal, adat tradisi dan budaya masing-masing dengan keanekaragamannya. Tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah melestarikannya agar tidak punah termakan oleh gempuran globalisasi di era modern saat ini. Sesuai dengan Undang-Undang Kebudayaan pasal 30 bahwa penumbuhan dan pelestarian kebhinekaan melalui keharmonisan dalam keanekaragaman budaya dapat diwujudkan dengan penanaman nilai budaya dan pengenalan keanekaragaman budaya.

Weh-wehan, mungkin adalah sebuah istilah kata asing bagi sebagian besar orang, tetapi tidak dengan masyarakat yang tinggal di wilayah Kaliwungu Kabupaten Kendal dan sekitarnya. Weh-wehan berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti saling memberi. Weh-wehan merupakan salah satu tradisi budaya Islam Jawa yang ada di Kaliwungu Kabupaten Kendal saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini diyakini oleh masyarakat setempat telah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Unik dan menarik adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tradisi weh-wehan. Memang bukan hari raya Idul Fitri ataupun hari raya Idul Adha, tetapi masyarakat disekitar kaliwungu heboh menyiapkan berbagai rupa dan jenis makanan mulai dari yang tradisional hingga makanan modern. Penyambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal yang unik ini hanya dijumpai di daerah Kaliwungu Kendal dan sekitarnya. Hal tersebut yang melatar belakangi tim P5BK SMK Negeri 4 Kendal mengangkat tradisi weh-wehan untuk dilaksanakan disekolah sebagai upaya pelestarian kearifan lokal budaya Islam Jawa yang ada di Kaliwungu dan sekitarnya. Banyaknya peserta didik yang berasal dari daerah Kaliwungu dan sekitarnya mendorong tim P5BK melaksanakan tradisi weh-wehan di sekolahan. Hal tersebut selain bertujuan sebagai pelestarian kearifan lokal juga untuk mengenalkan tradisi weh-wehan kepada peserta didik yang berasal dari wilayah Kendal bagian barat yang belum mengetahui adanya tradisi tersebut.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2021 ini warga SMK Negeri 4 Kendal mempunyai cara yang unik, yakni mengangkat kearifan lokal tradisi weh-wehan dari daerah Kaliwungu Kendal. Hal tersebut dilaksanakan karena letak SMK Negeri 4 Kendal berada dekat dengan wilayah Kaliwungu Kendal. Seluruh peserta didik yang mendapatkan jadwal berangkat sekolah mengenakan busana muslim, dan kegiatan dibuka dengan seluruh peserta didik mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh guru PABP yakni Ustadz Mokhtar Nugroho, M. S. I. secara virtual melalui channel youtube SMK Negeri 4 Kendal. Acara yang sangat kidmat itu diikuti oleh seluruh warga SMK Negeri 4 Kendal dengan sangat antusias. Semua berbahagia saat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, terlebih pada masa covid-19 yang mulai mereda, para siswa dapat berkumpul bersama teman-temannya di sekolah.

Tak hanya acara pengajian, peserta didik dan seluruh warga SMK Negeri 4 Kendal termasuk guru dan karyawan membawa berbagai makanan khas weh-wehan. Salah satu diantaranya adalah sumpil dan ndog mimi. Sumpil merupakan salah satu makanan khas saat acara peringatan maulid nabi, makanan yang teksturnya seperti lontong/ ketupat ini terbuat dari bahan yang sama yakni beras, akan tetapi yang membuat unik adalah bentuk dan bungkusnya. Sumpil berbungkus daun bambu yang berbentuk segitiga, filosofi bentuk segitiga ini mengartikan ujung yang menghadap ke atas adalah hubungan kita sebagai manusia dengan Tuhan (habluminallah), sedangkan ujung sisi kanan dan kiri menandakan hubungan habluminannas (hubungan sosial antar manusia). Makanan ini lengkap dihidangkan dengan bumbu sambal kelapa dengan rasa pedas, gurih yang menambah rasa kenikmatan hidangan sumpil ini.

Kedua, ada ndog Mimi, mungkin nama yang aneh, tidak semua orang familiar dengan nama makanan tersebut. Makanan ini juga merupakan salah satu makanan khas yang harus ada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ndog Mimi merupakan telur dari hewan seperti kepiting betina yang bernama Mimi, sedangkan pasangannya bernama Mintuna, maka dua pasang sejoli itu dinamakan Mimi dan Mintuna. Meski makanan ini sudah sangat jarang, tetapi di tahun ini, peserta didik SMK Negeri 4 Kendal mampu menghadirkan makanan ndog Mimi dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi weh-wehan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di SMK Negeri 4 Kendal terlaksana dengan sangat meriah. Seluruh peserta didik menggelar dan menyajikan makanan-makanan yang telah dibawa dari rumah di depan kelas mereka masing-masing. Perwakilan kelas saling bersilaturahmi ke kelas tetangga, mereka mengantarkan makanan tradisional untuk kelas tetangganya, dan kelas yang disinggahi tersebut memberikan oleh-oleh atau dalam bahasa jawa disebut “balen” kepada tamunya. Tradisi itulah yang disebut dengan istilah “weh-wehan”. Antusiasme warga sekolah sangat luar biasa terhadap kegiatan tersebut. Hal biasa bagi yang sudah sering melaksanakan tradisi tersebut, tapi hal yang luar biasa dan baru bagi peserta didik dan warga sekolah lain yang di daerahnya tidak terdapat tradisi tersebut.

Harapan dari tim P5BK kegiatan tersebut dapat terlaksana setiap tahunnya, agar kearifan lokal daerah setempat seperti tradisi weh-wehan ini tetap lestari ditengah perkembangan zaman dan pengaruh gempuran globalisasi yang sangat pesat.

Leave a Comment